Dibakukatakan saat ini


Misplaced
17 July 2013, 16:23
Filed under: Uncategorized | Tags: , ,

Urgensi untuk bebas sudah tidak ada lagi, karena kita semua sudah merasa hidup dengan kebebasan, dibantu oleh perangkat-perangkat yang katanya bisa mengeksiskan keutuhan seorang individu menjadi manusia yang bebas dan merdeka.

Ruang-ruang berkumpul tidak lagi menjadi suatu kebutuhan primer, karena setiap individu seakan menutup ruang dialog dan menjadikan dirinya sebagai seorang nabi, orator ulung, ahli dalam segala bidang dan menjadikan pujian juga acungan jempol sebagai makanan utama mereka, tanpa mempedulikan seberapa jujur acungan jempol itu, tanpa berpikir seberapa ditelannya kalimat-kalimat pamungkas mereka, tanpa perlu tau seberapa besarnya potensi yang ada jika ruang-ruang dialog tadi dibuka dan dijadikan sebagai sebuah senjata baru untuk mengembalikan banyak hal yang sepertinya sudah tidak pada tempatnya lagi



MALAM-MALAM
7 February 2011, 22:34
Filed under: Uncategorized

Sepuntung lalu dua puntung
untuk malam bersama kawan
dan tumpukan karya kejar deadline.

Secangkir lalu dua cangkir
untuk mata yang berat ingin tertutup
Melawan otak yang ingin fokus
pada lanjutan 25% lagi.



RADA BEDA
3 February 2011, 02:58
Filed under: Bercerita

Katakan saja namanya Derau, ia hidup di atas kaki telanjang dan penolakan untuk menjadi sama.

Lebih tepatnya panggil dia kakek Derau, ya dia kakek tua keriput yang berbalut luka masa lampaunya.

Tapi apakah tuanya itu telah benar-benar tua ? atau hanya sekedar pikiran terbelit dan termakan oleh idealis-idealis kosong tanpa dasar dan pemaknaan ? lalu membuatnya terlihat tua dan tersingkirkan.

Nihilisme mungkinlah dia, atau malah kompleksitaslah yang mengatasnamakan kehadiran cara berpikirnya.

Sehari-hari si kakek selalu berteriak dan memaki kepada pamflet-pamflet yang berbaris tak beraturan di setiap tembok-tembok kota, ” MURAH DAN TAK BERHARGA ” serapahnya.

Apa yang dilakukannya ? apa yang dipikirkannya ? Apa yang ingin ia katakan sebenarnya ?

Di setiap trotoar jalan, di setiap pemberhentian lampu merah, ia berlari dan melompat, sekali-kali ia tiarap selayaknya tentara yg berperang seraya menunjuk-nunjuk ke arah lempengan merah pertanda tahta, dan disiulkannya lagu kebangsaan Amerika.

Orang-orang menganggapnya gila, orang-orang menganggapnya siluman, tapi ia tetap berdiri tegap di setiap penghujung sore sambil meneriakkan ” HIDUPKAN ORIGINALITAS ” dengan jari tengah diangkat tinggi, diarahkannya kepada pembenaran.



Ruang tanda tanya
24 September 2009, 13:11
Filed under: Bercerita

Lantunan musik mengalun sempurna,
Dari speaker sederhana dua channel.

Lantunan sendu mengiri dengan setia,
Playlist acak dalam perangkat lunak pemutar musik.

Sebatang rokok putih perlahan menjadi abu tak bermakna,
Selagi kubertanya makna kehidupan.

Batang keduapun menetapkan dirinya dalam botol berisi air pengganti asbak,
Selagi kumencari tempatku dalam hidup.

Malam penuh tanya,
Tanpa jawaban.

Malam penuh asap,
Tanpa jalan keluar.



Berpindah
24 September 2009, 13:10
Filed under: puisi-puisian

Hari ini ada di sana,
Esok hari ada di situ,
Lusa entah di mana.



Refleksi sok berbicara
24 September 2009, 13:09
Filed under: puisi-puisian

Ketakutan untuk melangkah maju,
Meski dengan angkuhnya memberi semangat.

Ketakutan untuk terpuruk,
Meski dengan senyuman mengulurkan tangan.

Ketakutan untuk mengakui,
Meski dengan blak-blakan memaksa.

Takut melakukan,
Tapi berani berskenario.



Penonton tanpa riuh
24 September 2009, 13:07
Filed under: Bercerita

Mereka pulang dengan teriakan,
Mereka saling adu argumen,
Aku hanya menjadi penonton,
Tapi tak berani bertepuk tangan.

Diam-diam kutertawa,
Karena waktu memaksa,
Diam-diam kutersenyum,
Karena respek yang berbicara.