Filed under: Bercerita
Katakan saja namanya Derau, ia hidup di atas kaki telanjang dan penolakan untuk menjadi sama.
Lebih tepatnya panggil dia kakek Derau, ya dia kakek tua keriput yang berbalut luka masa lampaunya.
Tapi apakah tuanya itu telah benar-benar tua ? atau hanya sekedar pikiran terbelit dan termakan oleh idealis-idealis kosong tanpa dasar dan pemaknaan ? lalu membuatnya terlihat tua dan tersingkirkan.
Nihilisme mungkinlah dia, atau malah kompleksitaslah yang mengatasnamakan kehadiran cara berpikirnya.
Sehari-hari si kakek selalu berteriak dan memaki kepada pamflet-pamflet yang berbaris tak beraturan di setiap tembok-tembok kota, ” MURAH DAN TAK BERHARGA ” serapahnya.
Apa yang dilakukannya ? apa yang dipikirkannya ? Apa yang ingin ia katakan sebenarnya ?
Di setiap trotoar jalan, di setiap pemberhentian lampu merah, ia berlari dan melompat, sekali-kali ia tiarap selayaknya tentara yg berperang seraya menunjuk-nunjuk ke arah lempengan merah pertanda tahta, dan disiulkannya lagu kebangsaan Amerika.
Orang-orang menganggapnya gila, orang-orang menganggapnya siluman, tapi ia tetap berdiri tegap di setiap penghujung sore sambil meneriakkan ” HIDUPKAN ORIGINALITAS ” dengan jari tengah diangkat tinggi, diarahkannya kepada pembenaran.
Leave a Comment so far
Leave a comment